UNSRI Berperan dalam Diseminasi Hasil Riset Tuberkulosis Provinsi Sumatera Selatan
29 Nov 2025
Universitas Sriwijaya (UNSRI) kembali memperkuat kontribusinya dalam penelitian kesehatan masyarakat melalui keikutsertaan dosen sebagai narasumber pada pertemuan Diseminasi Hasil Riset Program TBC Provinsi Sumatera Selatan yang berlangsung di Hotel Amaris Palembang, Rabu (26/11/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Evaluasi dan Pemanfaatan Hasil Riset TBC yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.
Partisipasi UNSRI didasarkan pada Undangan Narasumber nomor 400.7.10/601/Kes/VIII/2025 serta Surat Tugas Rektor Universitas Sriwijaya nomor 0074/UN9/SB2.BUK.KP/2025, yang menugaskan dua dosen sebagai narasumber resmi, yaitu Prof. Dr. rer. med. Hamzah Hasyim, S.K.M., M.K.M., dan Dr. Iche Andriyani Liberty, S.K.M., M.Kes.
Dalam forum tersebut, Prof. Hamzah mempresentasikan materi berjudul Analisis Kaskade Penemuan Kasus hingga Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis di Kota Palembang: Pemanfaatan Data Sistem Informasi Tuberkulosis dan Audit Primer, mewakili Konsorsium Perguruan Tinggi Sumatera Selatan dan Jejaring Riset Tuberkulosis Indonesia.
Paparan tim operasional riset menekankan analisis menyeluruh terhadap kaskade layanan TBC di Palembang, mulai dari deteksi kasus, inisiasi dan penyelesaian pengobatan, integrasi layanan HIV, hingga cakupan terapi pencegahan pada kontak serumah. Kajian ini menggabungkan data SITB, SIHA, catatan TPT, serta audit primer fasilitas kesehatan, sehingga memberikan gambaran akurat mengenai kinerja program TBC di tingkat kota.
Hasil riset menunjukkan bahwa dari 5.625 kasus TBC sensitif obat, 89 kasus TBC resistan obat, dan 457 kasus TBC anak, sebagian besar pasien berhasil menyelesaikan pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk TBC sensitif obat mencapai 72,6 persen menyelesaikan terapi dan 27,4 persen dinyatakan sembuh, sedangkan TBC resistan obat mencatat tingkat kesembuhan 93,3 persen. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa sebagian besar diagnosis berasal dari rumah sakit dan Puskesmas, mencerminkan peran penting fasilitas pelayanan kesehatan primer dan rujukan.
Di sisi lain, penelitian mengidentifikasi beberapa celah penting dalam kinerja program. Cakupan tes HIV pada pasien TBC masih rendah, dengan hanya 34,6 persen pasien yang memiliki status HIV terdokumentasi. Pada kelompok orang dengan HIV, 19,6 persen sedang menjalani pengobatan TBC dan 11,1 persen tercatat sebagai presumptif TBC, menegaskan perlunya skrining intensif dan berkesinambungan. Selain itu, sebanyak 918 kontak serumah telah menerima Terapi Pencegahan TBC, mayoritas menggunakan regimen pendek 3HP, yang dinilai lebih mudah diimplementasikan dan meningkatkan kepatuhan.
tim operasional riset menekankan perlunya penguatan integrasi TB–HIV, akselerasi inisiasi pengobatan, peningkatan pemanfaatan diagnostik molekuler, serta perbaikan kualitas data rutin di fasilitas kesehatan. Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi dasar penyempurnaan kebijakan dan strategi pengendalian TBC di tingkat kota maupun provinsi, sekaligus mendukung pencapaian target nasional eliminasi TBC tahun 2030.
Universitas Sriwijaya berkomitmen untuk terus menghadirkan riset yang relevan dan berdaya guna, serta memastikan hasil penelitian berkontribusi dalam pengambilan keputusan kesehatan masyarakat melalui kolaborasi erat antara pemerintah daerah, jejaring riset nasional, dan institusi pendidikan tinggi. (Rilis FKM)