Peluncuran Buku “Keramik Cina Temuan Sungai Musi Abad 7–19 Masehi” dan Diskusi Publik di UNSRI
21 Oct 2025
Universitas Sriwijaya (UNSRI) menjadi tuan rumah kegiatan Peluncuran Buku “Keramik Cina Temuan Sungai Musi Abad 7–19 Masehi”. Acara tersebut dirangkai dengan diskusi publik bertajuk “Sungai Musi sebagai Pusat Peradaban Kuno Nusantara” yang diselenggarakan di Ruang Djuaini Mukti Lembaga Bahasa UNSRI, Kampus Bukit Besar Palembang, Senin (20/10/2025).
Rektor UNSRI, Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E. M.Si. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut dan mengungkapkan kebanggaan bahwa UNSRI dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian serta pengembangan pengetahuan tentang sejarah kebudayaan Sungai Musi.
“Selamat datang di Kampus Universitas Sriwijaya, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Kementerian Kebudayaan yang telah memilih Universitas Sriwijaya untuk melakukan peluncuran buku ini, mudah-mudahan akan memberi manfaat bagi kita bersama.
Kemudian kepada Tim UNSRI, kami berpesan ikuti kegiatan ini dengan baik mudah-mudahan kita bisa belajar bersama, belajar hal-hal yang baik, hal-hal sukses yang sudah terjadi dalam sejarah itu kita jadikan sebagai penyemangat dan motivasi,” Ujar Rektor.
Peluncuran buku ini dihadiri secara virtual oleh Dr. Fadli Zon, M.Sc., (Menteri Kebudayaan Republik Indonesia). Dalam sambutannya Dr. Fadli Zon mengungkapkan rasa syukur atas terbitnya buku yang merupakan hasil riset panjang terhadap ribuan artefak keramik yang ditemukan sepanjang aliran Sungai Musi.
“Saya tentu sangat berbahagia sekali, karena akhirnya Buku Keramik Cina Abad ke 7 - 19 Masehi Temuan Sungai Musi ini akhirnya bisa diluncurkan di Universitas Sriwijaya, ini adalah satu buku yang mungkin bisa menjadi satu awal dari penelitian lebih lanjut terhadap keramik-keramik yang ada di Sungai Musi,” Ujarnya via zoom meeting.
Menurutnya temuan ini menarik karena sebuah sungai yang bukan sekedar menunjukkan budaya dan peradaban lokal, tetapi merupakan satu sungai yang menjadi lalu lintas perdagangan global. “Kita bisa melihat dari temuan-temuan keramik Cina, dari berbagai dinasti, dari dinasti Han, dinasti Sung, dinasti Yuan, sampai dinasti Ming, Qing, dan juga pada era-era Republik, dan temuan-temuan ini menurut saya menandakan bahwa sudah berlangsung selama berabad-abad, bahkan mungkin sudah ribuan tahun. Jadi, buku Keramik abad ke 7-19 Masehi ini tentu bukan sekedar dokumentasi arkeologis, ini merupakan jejak panjang interaksi budaya dan perdagangan Nusantara dengan dunia internasional,” tuturnya.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Dr. Restu Gunawan, M.Hum. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya penyelamatan dan pelestarian situs-situs arkeologi Sungai Musi, termasuk kemungkinan pembangunan museum khusus di Palembang. “Peluncuran buku ini diharapkan mendorong generasi muda melakukan riset dan penelitian lanjutan untuk memperkaya khazanah kebudayaan dan memperkuat sejarah Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya,”ujarnya.
Ia mengatakan bahwa buku ini referensi yang cukup bagus tentang keramik sungai musi. "Semoga kehadiran buku yang ditulis oleh Menteri dan penulis lainnya ini bisa mendorong kalian untuk bekerja lebih keras membaca kembali tentang hubungan kita dengan negri Cina, dengan India, juga dengan Timur Tengah.
Jadi mari kita terus melakukan pembelajaran dari berbagai hal, misalnya sejarah juga arkeologi. Semoga ada yang bisa mengambil manfaat dari peluncuran buku ini dan bisa memberi inspirasi bagi kita semua serta memberi energi kepada kita semua untuk berkaya lebih baik," Pungkasnya.
Peluncuran buku ini merupakan bagian dari upaya pelestarian dan pengungkapan kembali jejak sejarah perdagangan dan kebudayaan di sepanjang aliran Sungai Musi yang sejak masa lampau menjadi pusat interaksi antarbangsa. Mewakili penulis buku, Pidia Amelia, M.A memaparkan isi buku dan linimasa penulisannya yang memuat hasil penelitian mendalam mengenai artefak keramik Cina yang ditemukan di wilayah Sungai Musi, mencakup periode panjang dari abad ke-7 hingga abad ke-19 Masehi.
Dalam acara ini, Prof. Dr. Farida Warga Dalem, Sejarawan dan Guru Besar UNSRI memberikan apresiasi sekaligus ulasan akademik terhadap isi buku. Setelah peluncuran buku, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan sejumlah pembicara yaitu, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. (Menteri Kebudayaan RI), Prof. Dr. Farida Warga Dalem (Guru Besar UNSRI), dan Dr. Dedi Irwanto, M.A. (Peneliti Bidang Sejarah dan Arkeologi).
Kegiatan ini dihadiri juga oleh sejumlah akademisi, peneliti, sejarawan, budayawan, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Palembang. (Ara_Humas)