KIN Mendunia! Dua Srikandi UNSRI, Zelka Dapala dan Dwi Valinia Ivanka, Ekspansi Gerakan Inklusi ABK ke 4 Negara di 3 Benua
22 May 2026
Karsa Inklusi Nusantara (KIN), gerakan pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), kini bertransformasi menjadi NGO internasional dengan jejaring di Malaysia, Turki, Mesir, dan Australia, menghadirkan kurikulum adaptif dan sistem digital lintas negara bagi anak-anak diaspora Indonesia.
Mahasiswa Indonesia kembali membuktikan taringnya di kancah global. Bukan sekadar wacana, dua srikandi muda asal Universitas Sriwijaya (UNSRI), Zelka Dapala dan Dwi Valinia Ivanka, berhasil mengekspansi gerakan kemanusiaan Karsa Inklusi Nusantara (KIN) hingga menembus batas empat negara di tiga benua berbeda.
KIN, yang awalnya digagas sebagai organisasi kepemudaan untuk pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sumatera Selatan, kini bertransformasi menjadi Non-Governmental Organization (NGO) berskala internasional. Langkah raksasa ini ditandai dengan peluncuran KIN Global Chapter yang menggandeng Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Malaysia, Turki, Mesir, dan Australia.
Zelka Dapala, selaku Founder sekaligus Executive Director KIN, mengungkapkan bahwa ekspansi ini lahir dari keresahan melihat minimnya akses pendidikan inklusi dan fasilitas kesehatan yang layak bagi anak-anak dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan diaspora di luar negeri.
"Inklusi bukan hanya hak anak-anak di dalam negeri. Banyak anak autisme atau down syndrome dari keluarga diaspora kita di luar negeri, seperti di Malaysia atau Timur Tengah, yang terabaikan karena kendala bahasa dan biaya. Melalui KIN, kami mengekspor 'Modul KIN-Adaptif', sebuah kurikulum Bina Diri terstandar yang memadukan terapi perilaku dan edukasi kesehatan gigi inklusif," tegas Zelka.
Kehebatan konsep KIN tidak berhenti pada kurikulumnya saja. Eksekusi operasional lintas negara ini berhasil diorkestrasi berkat sistem teknologi terapan yang dibangun oleh Co-Founder dan Director of Operations KIN, Dwi Valinia Ivanka.
Dwi berhasil merancang M&E (Monitoring & Evaluation) Dashboard Terapan yang mampu melacak perkembangan kognitif dan kemandirian ratusan anak dampingan secara real-time, baik yang berada di Indonesia maupun di negara-negara mitra. "Mengelola ratusan relawan yang tersebar dari Kuala Lumpur, Kairo, Istanbul, hingga Melbourne membutuhkan presisi tinggi. Kami baru saja merampungkan Training of Trainers (ToT) Internasional secara virtual. Sistem yang kami bangun memastikan relawan di Turki bisa memantau silabus yang sama dengan relawan di Australia atau Palembang," jelas Dwi.
Kolaborasi ini mendapat sambutan luar biasa dari komunitas internasional. Di Malaysia, relawan KIN turun langsung mendampingi anak-anak di Sanggar Bimbingan. Di Turki dan Mesir, KIN membuka layanan tele-mentoring masif bagi keluarga diaspora. Sementara itu, kolaborasi dengan akademisi PPI Australia difokuskan untuk benchmarking dan validasi kurikulum pendidikan khusus berstandar negara maju.
Langkah brilian Zelka dan Dwi membuktikan bahwa inovasi mahasiswa Unsri tidak hanya berputar pada teori di ruang kelas, tetapi mampu memecahkan krisis kemanusiaan di tingkat global. Karsa Inklusi Nusantara (KIN) kini bukan sekadar nama yayasan, melainkan representasi wajah diplomasi kemanusiaan pemuda Indonesia di mata dunia. (Rilis DKM)