UNSRI Perkuat Kolaborasi Internasional dalam Riset Kesehatan Tropis bersama Amsterdam University Medical Centre
31 Aug 2026
Universitas Sriwijaya (UNSRI) memperkuat jaringan riset internasionalnya di bidang kesehatan tropis melalui pertemuan virtual bertajuk “Connecting and Building Trust” pada Jumat (28/8/2026).
Pertemuan ini mempertemukan perwakilan dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNSRI, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, serta Prof. Dr. Martin Peter Grobusch, Kepala Center for Tropical Medicine and Travel Medicine di Amsterdam University Medical Centre (AUMC). Sesi ini bertujuan untuk menjajaki peluang kolaborasi di bidang kedokteran tropis, riset kesehatan masyarakat, dan kesehatan global.
Sesi yang dipandu oleh moderator Najmah, SKM, MPH, PhD (selaku Kepala Subdirektorat Internasionalisasi, Direktorat Kerjasama, Internasionalisasi, dan Alumni UNSRI) ini dibuka dengan sambutan dari Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, Sp.PD-KR, M.Kes, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, dan Sistem Informasi UNSRI, yang menekankan komitmen universitas dalam memperkuat kemitraan riset internasional.
Acara dilanjutkan dengan pemaparan komprehensif dari UNSRI dan otoritas kesehatan setempat. Mewakili FKM UNSRI, Prof. Dr. rer. med. Hamzah Hasyim menyoroti fokus fakultas pada epidemiologi malaria dan pemodelan spasial (spatial modeling). Sementara itu, Prof. Ramzi Amin, dr. Rizky Andini Nawawi, M. Biomed, dan tim FK UNSRI memperkenalkan aktivitas riset klinis multidisiplin mereka yang berkaitan dengan penyakit tropis. Untuk memberikan perspektif lapangan, dr. H. Trisnawarman dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel memaparkan situasi terkini penyakit tropis di provinsinya, termasuk prioritas kesehatan dan tantangan di lapangan.
Menanggapi pemaparan tersebut, Prof. Martin memperkenalkan fokus pusat risetnya pada malaria dan tuberkulosis (TB), serta memberikan apresiasi yang tinggi bahwa presentasi dari pihak UNSRI sangat mengesankan. Meskipun ia meminta maaf karena hanya bisa hadir sebentar akibat keterbatasan waktu pertemuan yang hanya satu jam, ia mencatat adanya peluang besar untuk bekerja sama, terutama dalam riset TB, epidemiologi, dan program pertukaran mahasiswa. Ia menekankan bahwa pertukaran mahasiswa harus bersifat netral dan tidak memaksa, guna memberikan kesempatan belajar epidemiologi lintas negara. Lebih lanjut, Prof. Martin juga secara terbuka membahas kendala riset, menyampaikan bahwa mengamankan pendanaan riset di Indonesia cukup sulit karena sebagian besar dana riset Eropa berfokus pada Afrika, sehingga ia menekankan perlunya mencari sumber dana secara bersama-sama.
Diskusi terbuka yang dipimpin oleh Ika Septihandayani, Manajer Proyek Riset Amsterdam UMC, semakin menggali sinergi lintas sektor dan disiplin ilmu ini. Menganggap pertemuan perdana ini sebagai awal dari kemitraan besar yang bijaksana (thoughtful partnership), Prof. Martin mengusulkan penjadwalan pertemuan lanjutan (follow-up meeting) dalam 2–3 minggu ke depan dengan alokasi waktu yang lebih panjang (lebih dari 2 jam). Ia berencana mengundang peneliti AUMC lainnya pada pertemuan kedua tersebut agar topik dapat dibahas lebih detail, serta menyampaikan harapannya untuk dapat mengatur kunjungan langsung (visitasi) pada awal tahun depan guna membangun kemitraan riset yang berkelanjutan dan berbasis riset. (Rilis FKM)